Soal Menyimpulkan Sebab dan Akibat Konflik dalam Karya Sastra
Soal Menyimpulkan Sebab dan Akibat Konflik dalam Karya Sastra

Soal Menyimpulkan Sebab dan Akibat Konflik

Diposting pada

Masalah dalam cerita memunculkan konflik. Konflik merupakan pertemuan atau benturan antara dua kekuatan yang berlawanan. Masalah dibedakan menjadi dua macam, yautu masalah dari luar(fisik) dan dari dalam (batin).

Masalah dari luar terjadi antara tokoh dan sesuatu di luar dirinya. Masalah ini bisa terjadi dengan lingkungan ataupun manusia. Masalah dari luar dibagi menjadi dua.
1. Masalah fisik merupakan masalah yang disebabkan benturan antara tokoh dan lingkungan. Sebagai contoh konflik yang dialami tokoh akibat bencana alam.
2. Masalah sosial merupakan masalah yang muncul karena hubungan antarmanusia, misalnya, masalah pertikaian, perebutan, atau perceraian.
Masalah batin timbul dari dalam diri tokoh. Masalah ini terjadi antara tokoh dan dirinya sendiri. Masalah merupakan salah satu unsur instrinsik. Unsur instrinsik merupakan unsur yang membangun cerita dari dalam. Konflik dalam cerita disebabkan oleh suatu peristiwa sebagai pemicunya. Konflik dalam cerita juga menyebabkan terjadinya sebuah peristiwa. Sebab-akibat dalam karya sastra dapat dilihat dalam novel dan cerpen.

Soal Menyimpulkan Sebab dan Akibat Konflik dalam Karya Sastra
Soal Menyimpulkan Sebab dan Akibat Konflik dalam Karya Sastra

Contoh Pembahasan Soal Menyimpulkan Sebab dan Akibat Konflik dalam Karya Sastra

Kutipan cerpen berikut untuk soal nomor 1 dan 2
Sebenarnya pekerjaan memetik daun tembakau muda itu dilakukan Ki Pradopo setiap tiga hari sekali. Namun, jumlah batang tembakau ge`njah sogoti miliknya mencapai 3.000 batang. Ia tak sanggup menyelesaikannya. Mak Entek, isterinya, menolak untuk membantu. Ia pun tak cukup uang untuk mengupah orang.
“Tembakau yang kau tanam dan kelak kau isap asapnya itu akan semakin menggerogoti tubuh rentamu perlahan-lahan, Pak!” alasan keberatan Mak Entek
“Bukan urusanmu! Bahkan, aku sudah siap dengan seribu risikonya!” jawab Ki Pradopo suatu ketika.
“Pasti ludes dirampok tikus-tikus ganas serakah itu! Tetapi, hama-hama keparat itu mustahil menyentuh batang tembakauku!” kali inin Ki Pradopo membantah mentah-mentah usulan Mak Entek agar mengganti ladang tembakaunya dengan palawija saja.
Mak Entek pun memilih hanya mengurusi ladang palawija mereka yang lainnya di pinggir kali Ciliwung.
Maka Ki Pradopo wajib mandiri memetik daun tembakau muda setiap pagi. Seribu batang per hari. Dua bulan runut sejak munggel pertama tepat di hari keempat puluh.

1. Penyebab konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah….
A. Tokoh Mak Entek memilih mengurusi ladang palawija
B. Tokoh Mak Entek harus memetik daun muda setiap hari
C. Tokoh Mak Entek ingin Ki Pradopo berhenti mengisap tembakau
D. Tokoh Mak Entek ingin ladang tembakaunya diganti dengan palawija
E. Tokoh Mak Entek tidak ingin tokoh Ki Pradopo memetik daun tiap hari
Jawaban : D

2. Akibat konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah….
A. Tokoh Ki Pradopo memetik daun muda tembakau di ladangnya setiap hari
B. Tokoh Ki Pradopo menghentikan kebiasaan buruknya menghisap tembakau
C. Tokoh Ki Pradopo harus memetik daun muda tembakau seorang diri di ladang
D. Tokoh Ki Pradopo mengganti ladang tembakaunya dengan tanaman palawija
E. Tokoh Ki Pradopo ingin tokoh Mak Entek membantunya di ladang setiap seminggu sekali
Jawaban : C

Kutipan novel berikut untuk soal nomor 3 dan 4

“Pangeran Diponegoro?” katanya berdiri sejenak, tetapi kemudia duduk kembali. “ Ya, ya, Pangeran Diponegoro. Itu nama pilihanmu yang bagus.”
“Jadi, kamu ingin memakai nama Pangeran Diponegoro?”
“Kalau Ayah membolehkan.”
“ Kenapa tidak? Itu hakmu. Putraku, aku sedang melaksanakan kewajibanku itu. Aku bermaksud memberimu kedudukan sebagai Adipati.”
“Terima kasih, Ayah.”
“Aku akan umumkan besok. Sekarang juga dipersiapkan semuanya.”
“Maaf, Ayah. Aku rasa harkat yang Ayahanda berikan untukku itu terlalu tinggi. Bukan aku yang layak menjadi Adipati, melainkan adikku, Ibnu Jarot.”
“Aku berkuasa mengubah garis takdir itu, Ontowiryo, eh Diponegoro. Aku adalah sabda.”
“ Aku takut tidak dapat menjalankan amanat itu, Ayahanda. Aku merasa terpanggil menjadi pengabdi agama dan rakyat.”
“ Baiklah jika itu maumu. Tap, aku minta kau tinggalkan lingkungan istana.”
“Tanpa Ayahanda pinta pun aku akan menjauh dari hiruk-pikuk duniawi ini”, ujar Diponegoro sambil berlalu meninggalkan Ayahandanya.

3. Penyebab konflik dalam kutipan novel tersebut adalah….
A. Tokoh Pangeran Diponegoro tidak ingin menjadi seorang Adipati
B. Tokoh Pangeran Diponegoro tidak ingin adiknya menjadi seorang Adipati
C. Tokoh Pangeran Diponegoro tidak ingin tinggal di dalam istana
D. Tokoh Pangeran Diponegoro tidak menghargai tokoh Ayahanda
E. Tokoh Pangeran Diponegoro tidak ingin memakai nama Ontowiryo
Jawaban : A

4. Akibat konflik dalam kutipan novel tersebut adalah….
A. Tokoh Pangeran Diponegoro menjadi Adipati
B. Tokoh Pangeran Diponegoro diusir dari istana
C. Tokoh Pangeran Diponegoro menjadi pemuka agama
D. Tokoh Pangeran Diponegoro tidak diakui anak oleh tokoh Ayahanda
E. Tokoh Pangeran Diponegoro berebut tahta Adipati dengan adiknya
Jawaban : B

Gambar Gravatar
Kesuksesan adalah hasil dari kesempurnaan, kerja keras, belajar dari pengalaman, loyalitas, dan kegigihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *